Kembali pada sejarah dan biografi Raden Haji Kyai Misbahul Munir
Nama : R.H. Misbahul Munir
Alamat : Desa Pranggong Waled
Lahir : Sekitar tahun 1930 an
Wafat : Pada Hari Minggu tanggal 09 Ramadhan tahun 1995 M.
Raden
Misbah dilahirkan bersamaan dengan ramehnya isu pemberotakan penjajahan
kolonial jepang. Sejak kecil Raden Misbah telah mempunyai sikap dan
karakter yang berbeda dengan teman-teman sebayanya, dia seorang pendiam
dan penakut. Kiranya sikap itu sama dengan yang dimiliki ayahnyanya
keika masih kecil. Beliau di anggap mempunyai kelebihan dan keanehan
dalam dirinya hingga ayahnya (Abu Bakar) tidak berani untuk memberikan
ilmu-ilmu kesaktianya kepada Misbah, melainkan Abdul Koharlah yang
sempat di bekali dengan ilmu-ilmu kesaktian oleh ayahnya itu. Ayahnya
menilai misbah belum saatnya untuk di bekali ilmu-ilmu kesaktian dan di
biarkan untuk mencari ilmu itu kepada orang lain. namun semua ilmu-ilmu
kesaktian dan sikap kealiman itu malah di turunkan dan diwarisi oleh
Misbahul Munir pada Abdul Kohar sebagai anak tirinya itu.
Setelah
Raden Misbah menginjak masa remaja sikap keberanianya mulai
ditonjolkan, saat itulah Raden Misbah mulai populer dan terkenal hingga
di berbagai daerah dan disegani oleh orang-orang. Layaknya seorang
remaja normal sama dengan remaja lainya Raden Misbah mulai memendamkan
rasa cinta dengan seorang gadis cantik putri dari seorang kontraktor
tanah kaya raya di desa Bangong kala itu, ia bernama Mutinah. Berawal
ketika ia main kerumah temanya. Dan ia punya cita-cita untuk menikah
dengan seorang gadis yang ia cintai itu hingga akhirnya cita-cita yang
telah lama di pendam itu terkabulkan, akhir cerita ia menikah dengan
Mutinah dan menjalani rumah tangga yang harmonis dan romantis penuh
dengan kasih sayang kerena keduanya saling mencintai satu sama lain.
namun dalam hubungan perjalanan rumah tangganya tidak begitu lama hanya
sekitar 2 tahunan dan tidak dikaruniayai seorang putra.
Asal
masalahnya karena mertuanya tidak suka dengan melihat sikap Misbah yang
begitu aneh dan membebankan keluarga istrinya. Karena Raden Misbah
sering pergi tanpa pamit kepada mertua dan istrinya layaknya seorang
yang masih bebas dan tidak punya tanggung jawab keluarganya, setiap kali
ia pulang mesti membawa teman untuk menetap di rumah istrinya serta di
tanggung oleh istrinya kemudian ia pergi lagi dalam waktu yang lama lalu
pulang lagi dengan membawa teman lagi sama persis ceritanya dengan
teman yang pertama kemudian Raden Misbah pergi lagi dan begitu
seterusnya sehingga mertuanya tidak suka melihat menantunya yang
bersikap seperti itu sampai sempat ia melarikan istrinya bersama dengan
teman-temanya ke suatu hutan diwilayah dekat tempat tinggalnya. untuk
menghindar dari kebakhilan mertuanya itu, namun setelah sampai di hutan
itu sikap Raden Misbah tidak mau berubah masih seperti biasa ia sering
meninggalkan istrinya di hutan, hingga istrinya tidak sabar menahan
amarahnya terhadap sikap suaminya yang selalu aneh itu akhirnya istrinya
memutuskan untuk dipulangkan kepada ayahnya.
akhir
cerita keduanya bercerai saat itu pula. Setelah ia cerai dengan istri
pertamanya ia hidup seorang diri ditemani bersama teman-temanya. Disela
sela kesendirianya beliau aktif sebagai anggota DI kemudian setelah lama
menjadi aktifis DI, R.H. Misbah di tunjuk menjadi seorang ketua DI di
alas Loyang ketika itu bersamaan dengan peristiwa NIPON dan ditemani
oleh Kyai Rustam. R.H. Misbah di kenal sebagi sosok pemimpin yang cerdik
dan pandai dalam memimpin anggotanya termasuk dalam mencarikan dana
kesejahteraan para anggotanya untuk hidup selama tinggal di hutan.
diantara kisah yang sangat menggembirakan anggotanya suatu saat R.H.
Misbah pulang dengan membawa banayak alat-alat perang seperti senapan
dan tembak entah darimana sumbernya, yang jelas beliau sangat handal dan
pintar dalam mencarikan bekal hidup dan alat alat perang, namun sumber
dana yang pasti yang dapat penulis ambil sumbernya dari dana swadaya
masyarakat (himpunan zakat) dari berbagi daerah termasuk yang terbesar
dalam mendonaturinya yaitu Kyai Jambari (Mama Jambari).
Pada
tahun 1960an R.H. Misbah mulai keluar dari DI bersama sebagian
anggotanya, sangatlah aneh ketika R.H. Misbah keluar dari hutan, namun
sebelum keluar beliau berpesan kepada sebagian anggotanya agar supaya
memejamkan matanya dan terus mengikuti jejak langkah dirinya, bagi yang
patuh dengan pesan itu tentu selamat namun bagi yang melanggar pesanya
itu justru malah ketangkap oleh Penjajah Jepang. Setelah R.H. Misbah
keluar, kemudian di gantikan oleh Danu dari Plumbon. Beliau melanjutkan
perjuanganya di berbagai daerah termasuk di ambon, bali, sumatra dan
masih banyak lagi daerah-faerah yang menjadi pusat perjuanganya.
R.H. Misbah Menikah dengan Nyi Sukesih keturunan darah keraton cirebon
Isitri
kedua setelah beliau pisah dengan Mutinah kemudian menikahi sukesih
asli darah keturunan kerajaan keraton Cirebon. Demi mendapatkan gadis
keturunan keraton cirebon itu beliau mati-matian berjuang untuk
mendapatkanya. Awal mulanya R.H. Misbah mendapatkan inormasi dari
temanya “siapa yang bisa mengalahkan calon suami Nyi Sukesih yang telah
dipilih oleh ayahnya maka akan mendapatkan Nyi Sukesih”, dengan motifasi
tersebut R.H. Misbah mulai mengasah ilmu kebatinannya dengan bertapa di
sekitar keraton cirebon, setelah beberapa waktu lamanya beliau bertapa
kemudian beliau menjadi optimis untuk bisa mengalahkan calon suami dari
Nyi Sukesih, saat itulah mulai terjadi pergulatan yang begitu sengit
dengan beberapa calon yang telah ditetapkan oleh ayah Nyi Sukesih, namun
pada akhirnya pertandingan itu di menangkan oleh R.H. Misbah.
Sejak
itulah kedigjayaan dan kesaktianya mulai dikenal dan diakui oleh
masyarakat luas terutama masyarkat indramayu dan Cirebon sampai
pemerintah kolonial Jepang pun menilai bahwa R.H. Misbah adalah seorang
yang mempunyai kesaktian yang luar biasa, sehingga beliau dikagumi oleh
kolonial jepang ketika masa itu. Singkat cerita Nyi Sukesih di nikah
oleh R.H. Misbah namun dalam perjalanan hidup bersama Nyi Sukesih belum
sampai dikaruniai keturunan. Kemudian R.H. Misbah menikah lagi dengan
seoang gadis dari Ciledug- Cirebon yang bernama Nyi Ratmawati dari hasil
pernikahan denganya dikaruniai seorang putra yang bernama Bahrudin
namun belum sampai menginjak masa remaja bahrudin meninggal dunia.
Kemudian beliau menyebarluaskan keilmuawan yang dimilikinya sampai ke
beberapa wilayah Indonesia sekitar tahun 1982-an. Selain dikenal sebagai
orang sakti dan digjaya beliau juga dikenal sebagai seorang pengusaha
karet terkenal hingga sampai ke luar jawa.
Pada
tahun 1985-an R.H. Misbah mulai membangun rumah kediamanya di Desa
Pranggong Waled hidup rukun bersama istri ketiganya yaitu Nyi Ratmawati,
namun sepertinya karakter dan sikapnya yang sangat agresif dan penuh
semangat dedikasi tinggi dalam menyebarkan kesaktianya beliau jarang
sekali tinggal dikediamanya walau sudah punya rumah sendiri melainkan
selalu pergi untuk berdagang sekalian mengembangkan dan menyebarkan
keilmuwanya sampai-sampai rumah kediamanya yang terletak di desa
Pranggaong itu rameh di penuhi oleh santri-santri dari berbagai wilayah
terutama dari luar jawa hingga luar negri, malasyia dan singapur. Berkat
dari perjuangan dan keseunguh-sungguhanya itu kemudian beliau
mendirikan sebuah yayasan Pendidikan yang diberi nama Rifa’iyah
Syafi’iyah.
Perjalanan Menuju Ke Singapur dan Malasyia
Konon
menurut teman akrabnya sebut saja (Wakarman) ketika di Pranggong, Pada
awal mulanya R.H. Misbah pergi ke malasyia dan singapur mengikuti
temanya yang berdagang ke sana, perlu di ketahui bahwa kepergian beliau
ke malasyia dan singapur bukan bertujuan untuk menyebarkan ilmunya
melainkan tujuan utamanya yaitu berdagang karet, namun prinsip beliau
ketika barang daganganya itu laku dan berhasil beliau justru malah
meninggalkanya beliau malah menyebarkan dan mengajarkan keilmuwanya itu,
terbukti ketika beliau masih berdagang di sumatera konon ceritanya
beliau hampir saja di bohongi dan di bunuh oleh seorang bajingan yang
licik, namun pada akhirnya R.H. Misbah sudah tahu bahwa bajingan itu
akan membunuhnya.
Dalam
perjalanan dagang ke malasyia dan singapur beliau mengalami lika-liku
dan sangat rawan pembunuhan hampir saja beliau terbunuh dan akhirnya
selamat. Setelah beliau mendarat di pelabuhan singapur didapati dua
kelompok islam dan kristen yang sedang berkelahi entah gara-gara apa
melihat tragedi itu mengundang R.H. Misbah untuk membantu dan menolong
kelompok islam yang kala itu dari kelompok islam di pimpin oleh H. Abu
Bakar, setelah R.H. Misbah mulai maju ke barisan medan perkelahian itu
akhirnya kemenangan itu di bawa oleh kelompok islam, hingga akhirnya H.
Abu Bakar mengajaknya ke sebuah restoran ternama di singapur sambil
bercerita dan mengucapkan terimaksih atas bantuanya. Dalam pertemuan
kedua orang sakti itu menyimpulkan bahwa R.H. Misbah ditarik dan dimohon
untuk mengajarkan dan mengembangkan keilmuanya di singapur. Singkat
cerita beliau menetap dan tinggal disana selama tiga tahun lamanya di
samping beliau mengajari keilmuwan bathin juga mengajari tentang
kitab-kitab tarajumah karangan Syaikh Ahmad Rifai, namun bahsanya telah
dialihkan oleh R.H. Misbah dengan menggunakan bahasa melayu.
Diantara
ilmu kesaktianya yang sangat terkenal ialah “pukul siji tapak telu”
artinya pukul siji yaitu makrifat tapak telu yaitu syari’at, thoreqot,
dan hakikat. Adapun diantara ilmu tarajumahnya yang sangat populer
diajarkan disana ialah mengenai ilmu tauhid (ushuludin) dan tasawuf
(sifat terpuji dan cinela), kiranya kedua keilmuan yang beliau ajarkan
sangatlah linear dan berkorelasi tinggi. Beliau adalah orang yang sangat
fanatik dengan ketauhidan, makanya bagi siapa saja diantara santrinya
yang mau belajar tentang ilmu kesaktian maka harus terlebih dahulu
mengucapkan dua kalimah syahadat beserta artinya. Yang sangat unik dalam
metode dan konsep pengajaranya yaitu sebelum para santri mengaji kitab
tarajumah diajak dulu untuk bermain ilmu silat, begitulah seterusnya,
dengan konsep seperti itulah mengundang banyak santri-santri yang
kepengen belajar kesaktian sekaligus belajar kitab tarajumah.
Selama
beliau di singapur selalu menganjurkan para santri-santrinya untuk
memakai pakaian putih-putih terutama saat beribadah seperti sholat dan
lain sebagainya, beliau meyakini bahwa ketika beribadah menghadap yang
maha kuasa haruslah dalam keadaan suci dan bersih makanya menganjurkan
santrinya untuk selalu memakainya. Hingga sekarang pun tradisi dan
budaya itu masih selalu dipakai oleh santri-santrinya, malahan sampai di
juluki dengan jamaah golput (golongan putih). Sebenarnya anjuran itu
telah menjadi prinsip bagi beliau ketika masih di Indramayu, namun
beliau masih belum berani untuk mewajibkan santri-santrinya
dikhawatirkan bertentangan dengan para kyai di desanya sehingga itu
hanya sebatas anjuran saja kepada santrinya. Diantara para santrinya
yang hingga kini masih aktif melestarikan ejaran perjuangan beliau di
singapura yaitu bapak H. Isnen dan bapa H. Hamdan di malasyia, malahan
putra dari kedua orang itu sempat dipondokan di desa Sukawera dengan
bapak Kyai Nashori Effendi. Beliau tidak pernah pulang ke rumah
kediamanya (Indramayu), bahkan konon ceritanya selama tiga tahun disana
beliau sering hilang tanpa jejak entah kemana perginya kemudian kesitu
lagi dan itu dilakukan secara terus menerus, sampai sempat ada isu bahwa
R.H. Misbah telah meninggal dunia, masyrakat singapur dan indramayu
terutama para santri-santrinya menganggap R.H. Misbah telah meninggal
karena tidak ada kabar beritanya, bahkan ada diantara salah satu
santrinya yang mengistikhoroi bahwa beliau telah meninggal.
Kedigjayaan dan Kesaktian R.H. Misbahul Munir
Dari
berbagai literatur koresponden yang dapat penulis ceritakan diantara
kesaktian dan kedigjayaan R.H. Misbah yang sangat nampak di mata para
muridnya yaitu saat tragedi keributan dan peperangan di Pasuruan. Saat
itu R.H. Misbah dengan usahanya dalam merendamkan dua kelompok yang
sedang bentrok hingga akhirnya kedua kelompok itu dapat damai dan saling
memaafkan. Kemudian pada saat tragedi Bali, seperti yang telah menjadi
adat istiadat orang bali ketika merayakan hari agamanya yaitu dengan
membakar mayat massal namun dengan taktik dan usahanya pesta perayaan
tersebut dapat dibatalkan dan akhirnya banyak dari orang-orang budha
sendiri yang mau belajar kesaktian lantaran kagum dan salut dengan
kesaktian beliau dan akhirnya tidak sedikit dari mereka yang memeluk
islam. Kemudian saat tragedi penggempuaran rumah kediamnya oleh pihak
pertamina untuk dijadikan jalan menuju pengeboran minyak bumi pertamina,
beliau menolaknya karena beliau masih pengen menetap di lokasi itu,
bahkan beliau sanggup menggantinya dengan tanah yanag lebih luas dari
rumah kediamanya itu. Tapi pihak tetap bersikukuh akan menggusurnya,
namun apa yang terjadi? Alat yang digunakan untuk mengeruk dan merusak
rumah itu rusak dan fatal. Bukanya beliau pelit dan ingin menang
sendiri, namun beliau prihatin dan merasa kasihan dengan tanah dan
rumah-rumah yang ada di sekelilingnya karena andaikata beliau merelakan
rumahnya untuk di gusur secara otomatis banyak tanah dan rumah-rumah
yang akan digusur oleh pihak pertamina. Inilah bukti keberanian dan
kasih sayangnya terhadap warga masyarakat di sekelilingnya. Dari kisah
ini dapat kita ambil teladanya, Kemudian juga pada saat tragedi
pembakaran kitab tarajumah di kab. Demak, beliau juga ikut andil dalam
mensumbangsih untuk mengamankan keributan di sana. Pertamanya beliau
diajak oleh KH. Khalali arjawinangun untuk menuntaskan keributan disana
KH. Khalali menganggap Raden Misbah ialah orang yang sakti. Juga saat
trgedi keributan di kerawang dan Taman Mini Jakarta. Dan masih banyak
lagi diantara kedigjayaan dan kesaktian beliau yang telah tampak
disoroti beberapa banyak orang.
Wafatnya R.H. Misbahul Munir
Tepat
pada hari Hari Minggu tanggal 09 Ramadhan tahun 1995 M. beliau
menghembuskan nafas terakhirnya setelah lama menahan rasa sakit. Beliau
wafat di negeri singapura, saat setelah wafat beliau sempat mau di
makamkan di tempat kelahiranya, namun ketika itu dari keluarga dan
saudara-saudaranya merasa kesulitan untuk menjemputnya di bandara
singapur dikarenakan biaya transportasi yang begitu melunjak, lagi pula
beliau sudah tidak punya keluarga lagi di tempat kediamannya itu, hingga
dari pihak santri-santri mengikhlasknya untuk dimakamkan di negeri
singapur. Mengenai masalah wafatnya hingga kini masih menjadi
kontradiksi, sebagian diantara santrinya ada yang meyakini bahwa beliau
masih hidup dan kini berada di negara Brunai Darussalam, malahan belum
lama sekitar tahun 2000an ada seseorang yang mengaku bertemu dengan
beliau. Sebagianya lagi menganggap bahwa beliau telah wafat. Namun yang
jelas beliau telah tiada. R.H. Misbah adalah sosok yang penuh dengan
misterius.
Nb: